Review Black Widow Sekuel Avengers yang Menayangkan Aksi Natasha Romanoff

Review Black Widow Sekuel Avengers

Dwilogi Avengers: Infinity War dan Endgame berakhir dengan tak 100 persen melegakan. Pasalnya, ada beberapa pahlawan super yang tewas akibat ulah Thanos. Salah satunya, Natasha Romanoff (Scarlett Johansson), menurut filmbor

Sang Black Widow mengorbankan nyawa demi sahabat, Hawkeye (Jeremy Renner). “Katakan pada keluargaku bahwa aku menyayangi mereka,” ucapnya kepada Natasha sembari berkelebat ke arah dasar jurang.

Suatu malam pada 1995, pasangan Alexei (David Harbour) dan Melina (Rachel Weisz) membawa kedua putri mereka, Natasha (Ever Anderson) beserta Yelena (Violet McGraw) kabur dari kejaran militer dengan pesawat.

Mereka tiba di Kuba dalam kondisi mengerikan. Pasalnya, Melina tertembak. Jenderal Dreykov (Ray Winstone) lalu memisahkan Natasha dari Yelena. Rupanya, dalam uji genetika dini, janin Natasha diduga punya mental pejuang.

Ia direkrut untuk menjadi Black Widow berikutnya. Lebih dari 21 tahun berlalu, Natasha mendengar ia bukan satu-satunya anak gadis yang direnggut paksa untuk menjadi “boneka.” Ada banyak anak perempuan yang dilumpuhkan ingatannya lalu dilatih di Red Room.

Bekerja sama dengan Yelena, Natasha menjemput Alexei di penjara lalu menemui Melina yang kini beternak babi. Di sana, mereka menyusun strategi untuk menyusupi Red Room.

Natahsha berupaya membebaskan cewek-cewek dari Dreykov. Ia yakin, perempuan punya hak memilih dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Saat strategi tengah disusun, pesawat tak dikenal mendarat di kediaman Melina.

Black Widow memiliki karakter spesifik. Ia sejatinya tak punya kekuatan ajaib menguasai ruang waktu layaknya Doctor Strange atau Hulk yang membesar untuk menghancurkan apa saja.

Scarlett Johansson dan Florence Pugh bagaikan dua kutub berbeda meski ada di “tubuh” yang sama. Scarlett konsisten serius dan nyaris tak punya selera humor. Bisa jadi karena sejak awal, Natasha bad mood duluan dengan tim Avengers.

Florence mengimbanginya dengan gaya selengekan, kadang moody dan sentimental. Namun, untuk urusan skill membunuh, boleh diadu dengan kakaknya. Benturan dua tokoh ini menciptakan konflik sampingan yang membuat Black Widow lebih gereget.

Di tangan Cate Shortland, Black Widow tak lantas menjadi pertunjukan tunggal Scarlett Johansson. Ia tetap memberi ruang gerak dalam takaran cukup untuk Florence, Rachel, bahkan David sekalipun. Black Widow menarik karena sosoknya sendiri dan organisasi yang melingkungi. Ia tak perlu mendatangkan pahlawan super dari “provinsi” lain agar penonton terkesima.

Sebagai sebuah film yang berusaha untuk memberikan ruang lingkup cerita yang utuh pada sosok Natasha Romanoff/Black Widow, Black Widow memang tidak menggali terlalu jauh tentang sejarah maupun perjalanan karakter tersebut dari masa lampau. 

Tentu, ada sekelumit kisah di adegan pembuka yang membentuk jalinan hubungan antara karakter Natasha Romanoff/Black Widow dengan Yelena Belova, Alexei Shostakov/Red Guardian, dan Melina Vostokoff sebagai sebuah unit keluarga.

Elemen drama keluarga tersebut kemudian dikembangkan untuk menghadirkan banyak momen komedi yang hadir dari interaksi dialog yang tercipta antara karakter-karakter tersebut, adegan-adegan aksi yang melibatkan keempat karakter dalam sejumlah pertarungan yang sengit, serta, tentu saja, adegan dengan sentuhan emosional yang hangat dari hubungan yang tercipta antara mereka. Tidak lebih dan tidak pernah terasa personal.

Arahan Cate Shortland (Berlin Syndrome, 2017) juga jelas memberikan tenaga bagi Black Widow untuk dapat bertutur secara maksimal. Shortland menghadirkan filmnya dengan ritme yang cepat, namun tidak pernah terasa terburu-buru dalam mengeksekusi setiap konflik maupun pengadeganan filmnya.

Tatanan efek visual, pengaturan suara, hingga penataan koreografi aksi juga tampil memuaskan. Tidak seperti karakter-karakter pahlawan super anggota The Avengers lainnya yang memiliki kekuatan khusus, karakter Black Widow adalah karakter yang hanya dapat mengandalkan kecerdasan taktik serta kemampuan bertarungnya. 

Shortland cukup cerdas untuk memahami hal ini dan memastikan bahwa Black Widow adalah sebuah presentasi kisah yang merayakan keberadaan sang karakter utama beserta kekuatannya tersebut.

Black Widow juga mampu hadir mengesankan berkat performa para pengisi departemen aktingnya. Penampilan Johansson jelas tidak perlu diragukan. Seperti Robert Downey Jr. bagi Tony Stark/Iron Man atau Chris Evans bagi Steve Rogers/Captain America, sukar untuk membayangkan karakter Natasha Romanoff/Black Widow dihidupkan oleh sosok pemeran lain.

Karakter tersebut telah begitu melekat pada sosok Johansson yang mampu menghidupkan karakter yang ia perankan dengan lugas. Kekuatan penampilan Johansson juga yang rasanya akan membuat kehadiran Natasha Romanoff/Black Widow akan dirindukan banyak penikmat seri film Marvel Cinematic Universe di masa yang akan datang.

1 Komentar

  1. Merkur & Ferencia: Merkur & Ferencia Merkur
    Merkur & ventureberg.com/ Ferencia merkur - Merkur 메이저 토토 사이트 & Ferencia Merkur in Solingen, Germany - Merkur - Merkur Merkur - https://febcasino.com/review/merit-casino/ MERKUR - Merkur worrione & Ferencia microtouch solo titanium Merkur

    BalasHapus

Posting Komentar

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama