Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Viral, Cerita Mahasiswi Semester 3 Hamil Anak Kembar Ditinggal Pacar: Aku Mutusin Bakal Rawat Anakku

Kisah pilu menimpa seorang mahasiswi semester tiga mengandung bayi kembar. Mahasiswi tersebut sedang mengandung bayi kembar berusia tujuh bulan.


Mirisnya, dengan kondisi perutnya yang semakin buncit, dia ditinggal pacarnya ketika tahu soal kehamilan itu.

Sempat merasa aib dengan kondisinya, ia bahkan menjajal mengonsumsi nanas muda tetapi calon bayinya tak sukses digugurkan.

Meski sempat mengaku tak siap dengan kehamilannya, kini mahasiswi itu menyebut nantinya bakal merawat calon bayinya itu.

Sebelumnya diberitakan, beredar kisah sedih dialami mahasiswi yang hingga saat ini tidak dikenali identitasnya.

Melalui akun TikTok @user104810582959 mahasiswi berusia 18 tahun tersebut mencurahkan ketidaksiapannya menjadi seorang ibu.

Ia mengisahkan, sang kekasih malah meninggalkan dirinya setelah mengenali kabar kehamilannya.

Berada di tanah rantau membuat kehamilan tersebut dia tutupi dari keluarga.

Kisah pilu tersebut bahkan membuat sejumlah warganet ingin mengadopsi anak yang ia kandung.

Sempat nyaris putus asa, mahasiswi tersebut sekarang mengaku bergairahmerawat kandungannya.

Ia pun berencana jujur kepada keluarganya tentang keadaannya.

“Makasih atas support kalian, aku jadi semangat buat ke depannya. Aku mutusin bakal rawat anakku, aku gamau beliau diadopsi orang lain",

"Makasih buat yang ingin adopsi anakku, kalian perhatian banget sama aku. Mungkin saya bakal jujur ke ortu setelah saya melahirkan nanti,” tulisnya dalam video lain.

Hingga saat ini belum dikenali kebenaran cerita video tersebut.

Pandangan Psikolog

Menanggapi cerita tersebut, psikolog keluarga dari Jasa Psikologi Indonesia (JASPI) Surakarta, R Yuli Budirahayu menilai, memberi informasi jujur terhadap keluarga ialah pilihan terbaik.

“Meskipun jauh dari keluarga, mesti ada komunikasi dengan orangtua, siapa tahu ada respons yang menenangkan sehingga psikologisnya menjadi hening,” ungkap Yuli saat dihubungi Tribunnews.com.

Langkah berkomunikasi dengan lingkungan sekitar apalagi dulu juga bisa diambil.

“Kalau tidak siap memberikan ke keluarga mungkin lingkungan sosialnya bisa membantu memberikan ke keluarga,” imbuhnya.

Yuli juga berharap pihak keluarga nantinya tidak memperburuk situasi kalau sudah menerima kabar tersebut.

“Kalau berkaca ideal ya perilaku orangtua sebaiknya tidak memperburuk situasi kondisi psikologis masing-masing, khususnya anaknya yang hamil tadi,” ungkap Yuli.

Mencoba untuk lebih tenang dan menerima realita disebut Yuli sebagai langkah yang sempurna untuk diambil.

“Paling tidak orangtua harus menolong anak merencanakan menjadi ibu dari anak yang mau dilahirkan,” ungkap Yuli.

“Ini kan bukan keadaan yang dikehendaki, bekali anak damping anak sampai anak merasa keluarga memberi support psikologis yang baik sehingga anak merasa tenang sampai persalinan,” imbuhnya.

Curhat Ketidaksiapan Menjadi Ibu

Sebelumnya, mahasiswi tersebut membagikan dongeng ketidaksiapannya menjadi ibu. Melalui TikTok anonim, video curhatan tersebut sudah mempunyai lebih dari 15 juta viewers.

Berikut isi curhatannya:

“Umur aku baru 18 dan gres semester dua naik ke tiga.

Pas tau aku hamil, pacar aku ninggalin aku.

Ga ada yang tau saya hamil, sebab udah keburu pandemi.

Aku ngekost alasannya adalah saya anak rantau, aku ga pulang alasannya lagi pandemi.

Sialnya lagi anakku kembar, perutku gabisa ditutupi lagi.

Udah makan nanas muda namun tetep bertahan, kini udah masuk 7 bulan.

Aku ngga siap, gimana dong?”, tulisnya disertai emoji tangisan.

*Disclaimer: Hingga info ini diturunkan, Tribunnews.com masih mencoba mendapatkan konfirmasi dari pihak terkait

Sumber: tribunnews.com